Buku

«

»

May 04

YESUS, FASILITATOR PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


YESUS, FASILITATOR PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Ada tertulis dalam Alkitab bahwa:

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,  tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. (Amsal, 1:7)

“… jika engkau makan dan jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kermuliaan Allah (1 Korintus, 10:31)

Kutipan-kutipan Firman itu penulis pahami sebagai peringatan bagi setiap ilmuwan, apapun agama yang dianut dan keimanan yang dipegannya,  untuk melihat seberapa jauh kesesuaian dan keselarasan  antara ilmu yang ia tekuni dengan Firman Tuhan. Jelasnya, apapun ilmu yang ia pelajari dan kembangkan, seharusnya  tidak boleh bertentangan dengan ajaran Tuhan, syukur kalau ilmu itu dikembangkan dengan bersumber pada Firman Tuhan sebagai satu-satunya sumber pemikirannya. Karena itu, tulisan ini lebih merupakan hasil pergumulan intelektual dan spiritual, dibanding karya akademis.  Meskipun demikian, tidak tertutup untuk dikaji dan didiskusikan secara akademis.

Mengacu kepada kutipan Firman Tuhan di atas, penulis percaya dan meyakini bahwa Tuhan  telah ikut campur-tangan sejak mjunculnya gagasan sampai dengan penyelesaian proses penulisan ini.

Karena itu, pertama sekali penulis ingin mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yesus, atas kesempatan dan kemampuan yang diberikan sehingga tulisan ini dapat diselesaikan sampai bentuknya yang sekarang ini.

Terima kasih juga disampaikan kepada Lisda dan Lia yang telah ikut memberikan semangat, mencarikan materi tulisan, serta menyunting dan mengoreksi draft-akhirnya. Terima kasih serupa juga disampaikan kepada beberapa mahasiswa Program Pascasarjana Penyuluhan Pembangunan dan Mana-jemen Pengembangan Masyarakat UNS Surakarta, Pak Adjat, Pak Sinyal, Mas Sigit, Mas Tetek, Pak Tjip, dan beberapa kolega yang sempat diberitahu mengenai rencana penulisan ini.  Secara khusus, terima kasih disampaikan kepada pendeta Idi Bangun Mulyono yang telah memberikan dukungan doa. Kepada semua pihak yang telah memberi komentar dan dukungan sampai dengan dapat diterbitkan dan disalurkannya tulisan ini juga diucapkan banyak terima kasih.

Mudah-mudahan buku kecil ini bermanfaat bagi pelak-sanaan pemberdayaan masyarakat yang sedang dikembang-kan di Indonesia sejak dasawarsa 1990’an yang lalu, terutama teman-teman fasilitator yang seiman.

Lebih dari itu semua, mudah-mudahan tulisan yang sederhana ini berkenan di hadapan Tuhan, sebagai salah satu sarana melanjutkan pekerjaanNya dan  pekabaran InjilNya.

KATA SAMBUTAN

Salah satu titik lemah dari kedirian manusia adalah ketidakberdayaan, ketidak-mampuannya dalam berhadapan dengan berbagai pergumulan yang menerjang dan bahkan mendera kehidupannya.  Hal yang amat tragis adalah bahwa manusia ternyata acapkali tidak berdaya dan tidak mampu menaklukkan berbagai gejolak yang lahir dari dalam dirinya dan mengguncang dirinya; ia terjatuh dan terpenjara oleh karena ketidakberdayaan yang meliliti dirinya.

Ketidakberdayaan manusia bahkan  acap menjadikan manusia diperdaya oleh pihak-pihak lain yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi ketidakberdayaan manusia.

Adam, manusia pertama, adalah contoh yang paling otentik, yang merefleksikan secara jelas ketidakberdayaan manusia dalam berhadapan dengan godaan-godaan yang hadir di ruang-ruang  kehidupan.  Ia terperosok dan bahkan jatuh pada sebuah realitas yang pada akhirnya memposisikan dia sebagi orang yang tidak setia menjaga komitmen kepada Sang Pencipta. Dan dalam sepanjang sejarahnya, tatkala manusia merengkuh lorong-lorong waktu, ketidakberdayaan telah menjadi tema utama dari kemanusiaan.

Yesus datang ke tengah-tengah realitas dunia merespons manusia yang tengah menggapai di tengah ruang dan waktu.

Oleh, melalui dan didalam Yesuslah, manusia yang tak berdaya itu memiliki daya, memiliki semangat untuk mengukir kehidupan baru.  Yesus adalah Pemberdaya manusia. Yesus memerankan diri sebagai fasilitator dalam pemberdayaan masyarakat.

Buku berjudul “Yesus, fasilitator Pemberdayaan Masyarakat” yang disusun oleh Sdr. Totok Mardikanto memiliki makna yang penting untuk mengingatkan ulang tentang peran yang dilakukan oleh sosok seorang Yesus di sepanjang hidupNya yang telah berjuang dan bergulat dalam memberdayakan manusia.

Dalam perkenan Tuhan, biarlah buku ini mampu menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi  Gereja-gereja, umat Kristen bahkan siapa saja untuk tampil menjadi individu dan institusi yang  memiliki komitmen memberdayakan manusia, memberdayakan masyarakat.

Info buku selengkapnya kunjungi di sini